Sabtu, 21 Februari 2015

Sahabat!

Kerapuhan sangat yang kita rasa
Aku bukan kau dalam darah yang mengalir
Aku bukan mereka dimana kau hanyut
 
Kita semua hidup di atas tali yang terlalu rapuh
 
Ini pilihan
Masalah pilihan
Tempat kita saling bergantung
Inilah titian dimana kita berpijak
Dengan rapuh
 
Aku mengenalmu kawan
Begitu pula aku membencimu
 
Kita adalah persahabatan keabadian
Mati hidup mati
Dengan tali tanpa logika
Kita berbenak satu
 
Beranjak dewasa kawan
Beranjak itu pula kebinalan di dada
 
Selamat tinggal kawan
Selamat tinggal
Seperti apa yang kau tuliskan sebelumnya
Kita tidak memerlukan orang yang tidak sekita kita
 
Seperti bagaimana beatles lenyap
Karena kedewasaan, mereka
 
Kita sama,
Dan kau pantas tersenyum

(telah diposkan di http://www.kemudian.com/node/262465 )

Siapa kami

Siapa kami dalam kegundahan malam ini
Dalam tapak berujung darah
Bernapas hitam
Siapa kami yang tersisa
Kegaduhan yang kami rasa
Dalam teriakkan sorak sorai massa
Kami disini berkomunikasi
Tak lagi tahu arti kata dalam artikulasi
Kami yang tak lagi kenal bapak-bapak kami
Dibunuh mencekam
Dalam tikaman seringai serigala militia
Kamu muda menolak tua
HAHAHAHA
Jangan bilang kami gila
Kau tak tahu satu dua kata yang bermakna
Bunuh
Bunuh saja kami di sisa waktu
Hunuskan jarum-jarum jammu
Sekali lagi
Ayo tikam!
HAHAHAHA
HAHAHA
Balutan emosi memudar
Kami dikerjai malam yang mengejar setoran

( telah diposting di kemudian )

sebuah cerita dengan alur maju (yang bernama "hidup") / 16012013

bebas?

hidup itu sendiri adalah sebuah penjara
mengekang kita dalam tubuh fisik 3 dimensi
mendorong-dorong kita dengan waktu
memaksa untuk selalu maju

kematian adalah pembebasnya
kenapa kita terlalu takut akan mati?
sementara mati adalah kebebasan

ketika jiwamu kesana kemari
mengelaborasi dengan alam


kebebasan adalah ketika kita tidak dipaksa untuk berlari (mengejar sesuatu)


tetapi meniti temali takdir

(telah diposkan di http://www.kemudian.com/node/272324 )

di Jakarta

di Thamrin, di bundaran dimana Jakarta mendekapku
Di ibukota, dengan segala kasih sayangnya, yang memelukku

Aku pulang kawan
Aku kalah
Aku menyerah

manusia / 05052013

Kami adalah manusia yang seperti manusia
Kami berjalan dengan jalan penuh kebimbangan
Manusia-manusia yang bingung dimana dan kapan ia harus berada dan bagaimana
Kami manusia yang bertanya dan selalu mempertanyakan kebenaran
Selalu ragu, adalah sifat kami
Kami tak pernah benar-benar menuju kemana kami tuju
Seyakin kami melangkah seyakin itu pula kami berhenti dan menutup mata
Kami manusia-manusia peragu, penuh kebimbangan
Dimana keyakinan?
Dimana ia akan benar-benar menancap di hati kami?

(telah diposkan di http://www.kemudian.com/node/273145 )

penghujung jalan - 20052013

terakhir kali
kita berlari
perlu berpijak
mencari pijakan
semua rapuh
punah dalam mata

kali ini kita tersesat
bersyukurlah
kita sadar
bahwa ini sesat
berarti cahaya menunggu
menunggu kita di garis batas

sekali lagi Tuhan
Tuhan?
Tuhan yang esa
Tuhan yang esa yang kemudikan kita malam ini
lagi dan lagi dan seterusnya

aku tidak ingin bernyanyi
tidak ingin bersyair

kini
pijakan telah kutemukan
akan bahagia
nantinya
mungkin
atas izin-Nya
dengan menyebut nama-Nya
dibalut keyakinan

kemudian
langkah
langkah-langkah kecil
(satu-dua
hinggap
sana-sini
berhenti
pada satu
satu tali)
kami pergi
tidak rapuh
tapi abadi
atas izin-Nya

(telah diposkan di http://www.kemudian.com/node/273214 )