Senin, 16 Januari 2012

Jadilah Milikku, Mau?

“jadilah milikku? Emm...”

“jadilah milikku, mau? Emmm...”

“Jadilah milikku, mau? ” kucoba 3 kali yang terakhir untuk melafalkannya, dengan intonasi yang berbeda tentunya. Jujur saja aku masih mencari-cari saat yang tepat untuk mengatakannya. Tapi lidah ini kelu saat kulihat wajahnya yang beku.

“Ini musim dingin yang ke-2, ayolah” kataku dalam hati untuk menyemangati. Sudah lewat 2 tahun, ya, 2 tahun. Tak terasa aku hanya bisa memandangimu selama itu, sementara kau sudah beberapa kali mengganti gandengan. Ini memang musim dingin, tetapi kesegaran air mukaku cepat sekali hilang, yang ada cuma peluh dan kegugupan.

“hai, re!” kucoba memanggil dari kejauhan. Dia menengok lalu kembali berbicara dengan temannya.

“hai, rere!” sekali lagi ku memanggilnya. Dan terpaksa kuharus mendatanginya.

“iya! Sebentar.”

Kuberinisiatif untuk maju.  Musim dingin ini  sebenarnya tak terlalu berarti bagiku apalagi untuk membekukan kakiku agar tak bergerak. Tetapi kecantikannyalah, kecantikannya yang membuatku seperti ini. Padahal kecantikan itu bukan segalanya bagiku, tetapi segala-galanya.

“haha, dialah yang mebuatku selalu tersenyum.” gumamku

Sekarang kusudah berani mendekatinya. Tak seperti hari-hari kemarin, kusudah memangkas rambut gondrongku, jadi pendek, terbilang cepak. Baju yang kukenakan pun sudah bisa dibilang rapi. Tetapi tetap saja orang-orang lain memandangku dengan pandangan sinis. ahh, tak usah peduli, ini saatnya aku maju.

“jadilah milikku, jadilah milikku, jadilah milikku.” Ucapku pelan seperti komat-kamit dengan tetap melangkah maju.

Sampai juga didepannya. Kupikir tak perlu basa-basi. Tak perlu lama-lama mencairkan gunung es didepanku, biar kuterjang saja sekalian sebelum aku yang malah membeku.

“re!”

“apa?” matanya bertemu dengan mataku. Dan itu dingin.

“jadilah milikku, mau?”

“maaf... kita bukan lawan jenis." jawabnya kaget

1 komentar: