Jumat, 06 September 2013

Renungan

Mengenai orang-orang yang beriman, yang artinya mereka yang lebih percaya dan taat kepada Tuhannya. Apakah pantas mereka dikatakan munafik? Ya, memang kita akui bahwa tidak ada seorang pun manusia yang sempurna saat ini. Oleh karena itu, tentu saja setiap orang yang ada dan hidup saat ini mempunyai hawa nafsu dan kecenderungan untuk bersenang-senang. Akan tetapi, pantaskah orang-orang yang lebih beriman mereka sebut munafik dan sok suci? Lalu apakah yang dikatakan jujur adalah orang mengikuti dan diperbudak oleh hawa nafsunya? Kalau-kalau jujur itu menyebabkan manusia menjadi binatang.

Bukan masalah jujur atau tidaknya, mari kita kembalikan fitrah masing-masing. Manusia yang disyariatkan untuk patuh terhadap aturan dan beribadah dan binatang yang sepenuhnya BEBAS! Tentu akan berbeda. Maka menjadi bebas seutuhnya menurut mereka sama saja menafikkan kemanusiaan mereka dan memilih untuk menjadi di jalan binatang. Mereka menolak atas mereka, aturan-aturan yang membedakan mereka dengan binatang, aturan yang juga termasuk fitrah sebagai manusia di dalamnya. Mereka inilah yang sebenar-benarnya munafik, mereka mengakui bahwa mereka adalah manusia, mereka mengakui mempunyai Tuhan, tetapi mereka menolak itu semua dan memilih seperti binatang. Sementara orang-orang yang beriman, sekalipun mereka memiliki hawa nafsu tetapi nafsu itu berhasil mereka kalahkan oleh rasa takutnya terhadap Tuhannya dan juga ketaatan terhadap-Nya. Mereka mengakui diri mereka sebagai manusia dengan penghambaan dirinya hanya terhadap Tuhannya.

Mari kita bedakan dua makhluk ini. Manusia dan binatang. Manusia dijanjikan  hari-hari pertanggung-jawabannya di hari akhir nanti sebagai pengadilan atas semua perbuatannya, SEMUANYA. Sementara binatang tidak, binatang mungkin dihitung amalannya tetapi vonis mereka semua sama, hancur lebur kembali sebagai tanah. Sementara manusia menempati diantara dua opsi. Inilah yang membedakan manusia dan binatang. Oleh karena itu, hak binatanglah untuk berbuat bebas mengikuti kehendak hawa nafsunya selain juga karena mereka tidak punya akal. Dan tanggung jawab manusia yang berakal dan selama masih memilki akal untuk menjadi manusia yang tunduk terhadap syariatnya.

Jadi, pantaskah orang-orang yang beriman itu dikatakan munafik? mereka menafikan nafsunya, meminimalisir dan menyalurkan sesuai dengan jalan-jalan yang diperbolehkan atau sesuai dengan fitrahnya manusia. Mereka-mereka yang menafikan nafsunya inilah yang bisa kita sebut sebagai orang beriman. Sementara orang-orang yang munafik sesungguhnya orang-orang yang menjauhi dirinya dari fitrah-fitrah manusia dan mengaku bertuhan tetapi tidak taat.


Selain manusia, adapula makhluk yang kepadanya dibebankan syariat, yakni jin. Mengenai mereka, para jin, mereka hidup berada di alam yang ghaib, bukan kemampuan kita untuk membahasnya.