Mengenai orang-orang yang
beriman, yang artinya mereka yang lebih percaya dan taat kepada Tuhannya. Apakah
pantas mereka dikatakan munafik? Ya, memang kita akui bahwa tidak ada seorang
pun manusia yang sempurna saat ini. Oleh karena itu, tentu saja setiap orang
yang ada dan hidup saat ini mempunyai hawa nafsu dan kecenderungan untuk
bersenang-senang. Akan tetapi, pantaskah orang-orang yang lebih beriman mereka sebut
munafik dan sok suci? Lalu apakah yang dikatakan jujur adalah orang mengikuti
dan diperbudak oleh hawa nafsunya? Kalau-kalau jujur itu menyebabkan manusia
menjadi binatang.
Bukan masalah jujur atau
tidaknya, mari kita kembalikan fitrah masing-masing. Manusia yang disyariatkan
untuk patuh terhadap aturan dan beribadah dan binatang yang sepenuhnya BEBAS! Tentu
akan berbeda. Maka menjadi bebas seutuhnya menurut mereka sama saja menafikkan
kemanusiaan mereka dan memilih untuk menjadi di jalan binatang. Mereka menolak
atas mereka, aturan-aturan yang membedakan mereka dengan binatang, aturan yang
juga termasuk fitrah sebagai manusia di dalamnya. Mereka inilah yang
sebenar-benarnya munafik, mereka mengakui bahwa mereka adalah manusia, mereka
mengakui mempunyai Tuhan, tetapi mereka menolak itu semua dan memilih seperti
binatang. Sementara orang-orang yang beriman, sekalipun mereka memiliki hawa
nafsu tetapi nafsu itu berhasil mereka kalahkan oleh rasa takutnya terhadap Tuhannya
dan juga ketaatan terhadap-Nya. Mereka mengakui diri mereka sebagai manusia
dengan penghambaan dirinya hanya terhadap Tuhannya.
Mari kita bedakan dua makhluk
ini. Manusia dan binatang. Manusia dijanjikan hari-hari pertanggung-jawabannya di hari akhir
nanti sebagai pengadilan atas semua perbuatannya, SEMUANYA. Sementara binatang
tidak, binatang mungkin dihitung amalannya tetapi vonis mereka semua sama,
hancur lebur kembali sebagai tanah. Sementara manusia menempati diantara dua
opsi. Inilah yang membedakan manusia dan binatang. Oleh karena itu, hak
binatanglah untuk berbuat bebas mengikuti kehendak hawa nafsunya selain juga
karena mereka tidak punya akal. Dan tanggung jawab manusia yang berakal dan
selama masih memilki akal untuk menjadi manusia yang tunduk terhadap syariatnya.
Jadi, pantaskah orang-orang yang
beriman itu dikatakan munafik? mereka menafikan nafsunya, meminimalisir dan
menyalurkan sesuai dengan jalan-jalan yang diperbolehkan atau sesuai dengan
fitrahnya manusia. Mereka-mereka yang menafikan nafsunya inilah yang bisa kita
sebut sebagai orang beriman. Sementara orang-orang yang munafik sesungguhnya
orang-orang yang menjauhi dirinya dari fitrah-fitrah manusia dan mengaku
bertuhan tetapi tidak taat.
Selain manusia, adapula makhluk yang
kepadanya dibebankan syariat, yakni jin. Mengenai mereka, para jin, mereka
hidup berada di alam yang ghaib, bukan kemampuan kita untuk membahasnya.