Selasa, 16 Februari 2016

Prasasti, Masa depan dan Paradoks (part 2)

Lama saya tidak berjumpa. Saya cukup rindu dengan fasilitas ini. Akhirnya saya bisa mengetik kembali. Sepertinya saya hanya menghilang sepersekian detik atau mundur sedikit jika memang meleset ketepatan waktunya. Di sela-sela sepersekian detik itu saya cukup kaget hingga bosan sendiri. Umur saya sudah bertambah 5 tahun sejak kehilangan momentum sepersekian detik tersebut. Padahal seperti yang kau tahu, mesin waktu tidak bisa mengubah usia. Saya menemukan yang lebih dari itu!


Kalau mesin waktu. Tak perlu lagilah saya jelaskan. Kalian sudah lebih mengerti daripada saya. Kita semua sama-sama punya era yang acak-adut selama tahun 2075-2079; orang-orang berpergian dengan mesin waktu tetapi kemudian mereka harus kembali lagi. Karena mereka merasa penemuan ini dirasa kurang manfaatnya, ketika mereka pergi ke masa lalu, tubuh mereka mengecil menjadi muda. Sementara mereka yang berangkat ke masa depan menjadi tua. Akhirnya semua orang yang berpergian pada masa itu kembali lagi ke era awal diantara 2075-2079 –terkecuali orang-orang yang meleset ke era sebelum atau sesudah kematiannya yang entah mengapa tidak pernah kembali-.