Minggu, 29 Januari 2012

Karbala

Siapatah kami yang mengetahui kebenaran
Ketika perpecahan adalah suatu keharusan
Meski di dalam dada, kemusykilan
Lalu kematian mereka adalah kemuliaan

Siapakah yang berani menjemput kematian
Pada utsman dan husain
Dalam pemberontakan dan karbala
Huru-hara
Awal-akhir
Akhir-awal
Siapalah kebinasaan?

Siapakah kita di atas bumi ini
Cuma tau darah yang tertumpah
Di karbala tentang pengkhianatan
Tentang sejarah, siapa tahu kebenarannya?

Selasa, 17 Januari 2012

Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

“yah! Ini kau baca, ada surat dari si sarah” tukas ibuku kesal kepada ayah.

“kenapa?dari siapa” ayahku coba memaklumi setelah melihat suratnya dan terdiam.

Ayahku mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Tapi aku? Aku bagaimana bisa menghadapinya. Ibu pun seperti tidak mau terima akan hal ini padahal 20 tahun sudah dia merasakan seperti ini; 20 tahun pulalah aku dititipkan pada kakek-nenekku; 20 tahun pulalah hal ini disembunyikan padaku.

Sekarang aku melihat ayahku. Dia membaca surat ini, tak tersenyum, tak pula marah, tanpa ekspresi. Aku tak pernah bisa memahaminya. Aku baru saja 2 minggu disini. Ketika kumelihat ibu menangis selalu dirumah yang kukira dahulu selalu ceria ketika mendatangiku ke rumah kakek.

“dia lagi?” Tanya ibu.

“iyaa.” Jawab ayah datar.

“kenapa selalu dia.” Tanya ibu kembali.

“karena dia sama sepertimu” jawab ayah mulai kesal lalu pergi berlalu.

2 minggu kemudian kakakku datang. Aku pikir dia sudah tidak tahan dengan keadaan di rumah ini. Kupikir sih begitu. Mungkin itu yang menyebabkan dia memilih tinggal di kos daripada di rumah sejak 5 tahun yang lalu.

“dik! Ayo ajak ibu.”

“lho? Kemana kak?”

“apa kau belum tahu?

Aku kebingungan apakah jalan pikiran kakakku; apa yang ia ketahui; apa yang belum kuketahui. Setelah percakapan tadi dia mengajakku ke gudang, tempat ayahku berlalu sebelum melengos keluar. Dan menunjukkan semuanya. Semuanya.

“nih! Nih! Nih! Kau lihatlah semua.” Sembari menunjukkan semua surat-surat yang pernah dikirimkan wanita itu, sarah, dengan wajah tenang. Apakah dia menyetujui semua hubungan ini, pikirku.

“ayo, dik! Ayo! Ajak ibumu. Ini sudah waktunya”

“waktunya apa?” tanyaku bingung.

“ke psikiater, ibumu sakit.”

Aku mulai bingung dengan semua korelasi ini. Seakan semua yang kubayangkan tentang keluarga ini yang membuangku di rumah kakek, sementara mereka semua menikmati kehidupan disini, sirna. Aku mulai bingung dengan jalan pikiran ayahku; jalan pikiran ibuku yang mau saja diperlakukan ayahku seperti ini; jalan pikiran kakakku yang menyuruh ibu ke psikiater dan tenang-tenang saja melihat-lihat surat dari wanita itu.

“ibumu sakit, sakit alter ego, kepribadian ganda.” Tukas kakakku.
  


Senin, 16 Januari 2012

Jadilah Milikku, Mau?

“jadilah milikku? Emm...”

“jadilah milikku, mau? Emmm...”

“Jadilah milikku, mau? ” kucoba 3 kali yang terakhir untuk melafalkannya, dengan intonasi yang berbeda tentunya. Jujur saja aku masih mencari-cari saat yang tepat untuk mengatakannya. Tapi lidah ini kelu saat kulihat wajahnya yang beku.

“Ini musim dingin yang ke-2, ayolah” kataku dalam hati untuk menyemangati. Sudah lewat 2 tahun, ya, 2 tahun. Tak terasa aku hanya bisa memandangimu selama itu, sementara kau sudah beberapa kali mengganti gandengan. Ini memang musim dingin, tetapi kesegaran air mukaku cepat sekali hilang, yang ada cuma peluh dan kegugupan.

“hai, re!” kucoba memanggil dari kejauhan. Dia menengok lalu kembali berbicara dengan temannya.

“hai, rere!” sekali lagi ku memanggilnya. Dan terpaksa kuharus mendatanginya.

“iya! Sebentar.”

Kuberinisiatif untuk maju.  Musim dingin ini  sebenarnya tak terlalu berarti bagiku apalagi untuk membekukan kakiku agar tak bergerak. Tetapi kecantikannyalah, kecantikannya yang membuatku seperti ini. Padahal kecantikan itu bukan segalanya bagiku, tetapi segala-galanya.

“haha, dialah yang mebuatku selalu tersenyum.” gumamku

Sekarang kusudah berani mendekatinya. Tak seperti hari-hari kemarin, kusudah memangkas rambut gondrongku, jadi pendek, terbilang cepak. Baju yang kukenakan pun sudah bisa dibilang rapi. Tetapi tetap saja orang-orang lain memandangku dengan pandangan sinis. ahh, tak usah peduli, ini saatnya aku maju.

“jadilah milikku, jadilah milikku, jadilah milikku.” Ucapku pelan seperti komat-kamit dengan tetap melangkah maju.

Sampai juga didepannya. Kupikir tak perlu basa-basi. Tak perlu lama-lama mencairkan gunung es didepanku, biar kuterjang saja sekalian sebelum aku yang malah membeku.

“re!”

“apa?” matanya bertemu dengan mataku. Dan itu dingin.

“jadilah milikku, mau?”

“maaf... kita bukan lawan jenis." jawabnya kaget

Minggu, 15 Januari 2012

AKU MAUNYA KAMU TITIK!



Lagi-lagi kulemparkan pandanganku kali ini ke tubuhnya. Setelah sebelum-sebelumnya kuhanya bisa mencuri-curi dari kejauhan, keinginan tahuan yang terpendam. Tidak seperti sebelumnya yang kuhanya bisa mengirimkan puisi-puisi tentang kemerdekaan. Sekarang kumelihatnya jelas, sangat jelas. Dia indah, semburat cahaya di wajahnya, sedikit gempal dan yang paling membunuhku, dia manis.
“maaf!” satu kata darinya yang membuyarkan lamunanku. Tubuhnya yang kuamati dari kejauhan tadi sudah ada di sini,  sekitar 30 cm dari wajahku.
“ya?” aku menjawab bingung setengah bertanya.
“kau tahu siapa yang menulis ini?” sembari menunjukan sekumpulan sajak tentang dirinya. Bagaimana ku tahu? Ya, itu akulah yang menulisnya.
“emmmhh, tidak, mengapa? Apa kau menyukai syair-syair seperti ini?”
“tidak, mungkin hanya sampah.” Lalu ia pergi melewatiku.
                Mungkin rasanya dunia ini remuk. Tapi tak apa kupikir mungkin hanya karena disini dialah satu-satunya yang bisa kulihat, untuk kujadikan puisi.

                Esoknya kumulai lagi menulis puisi. Tentang dia? Bukan, ini tentang kemerdekaan, tentang daerahku yang sudah lama menuntut kemerdekaan, tentang rakyat-rakyatku yang mengutuk pemerintahan. Sekarang kuditemani kembali dengan sebotol whiskey yang kubeli dari sipir korup. Satu sloki kutenggak, kemudian yang lainnya menyusul. Kumenari dalam diorama sel-sel yang mengekangku. Dan membacakan puisi-puisiku dengan lantang hingga mereka menenangkan. Menenangkan? Tahulah kalian maksud menenangkan disini.

                Sebulan kemudian. Kutak habis pikir mengapa gadis itu masih mencari berkeiling dari sel ke sel siapa penulis syair yang sudah usang.
                “hey! Apa yang kau cari tak ada di sini?” teriakku. Teriakanku tadi sedikit menggema diantara labirin-labirin yang ada. Memalingkan pandangannya pada selku, padaku. Sampai seorang sipir mulai mencari siapa yang berteriak di depan labirin. Dia memalingkan wajahnya lalu berlari. Aku tak sempat melihat wajahnya memerah tapi kutahu itu pasti. Sejak itulah kami mengenal.

                Sampai suatu saat ketika Kjokenmoding, si Gubernur Jenderal datang dan mengumpulkan semua sipir disini.
“hai!” gadis itu menghampiri.
“ya?” kumenjawab sembari bertanya.
“apa benar kau menginginkanku. Seperti apa yang semua kau tulis disini?” tanya gadis itu singkat.
“tidak, bukankah itu sampah menurutmu?” lalu gadis itu malu, memerah mukanya dan gugup untuk melanjutkan pertanyaannya seakan-akan teringat pada perkataannya dan marah sendiri.
Tak lama, dua orang sipir datang, membuka kunci selku dan menyeret kedua tanganku.
“sudah pergi saja kau!” teriakku.
“cari laki-laki yang baik!”
“tempatmu bukan disini!” teriakku sambil diseret oleh kedua sipir tadi. Dia malu, dia masih malu, memendam perasaannya dan tak beranjak dari sini.
“tapi... tapi...”
“SUDAH! PERGI!” teriakku kesal. Aku sudah berada di tengah-tengah sel yang lainnya.
Dari jauh sang jenderal memberi aba-aba.
“tapi....”
DOR.. DOR.. DOR’ juru tembak mengerjakan tugasnya.
“AKU MAUNYA KAMU TITIK!” teriaknya telat tetapi masih sempat terdengar saat pandangan ini mulai menghitam, mengeblur. Rupanya ia benar menginginkanku. Perasaannya yang dalam kini mulai bertubuh tetapi kosong kembali dalam kematianku. Pencariannya selama ini telah berakhir. Berakhir diujung senapan.

“HAHAHAHAHA” tertawa sang jenderal bengis itu.
“akhirnya kuberhasil membunuh juga penyair sialan itu, salah kalau aku hanya membunuh kurirnya saja, sipir kasim. Kalau tak ada gadis ini mungkin sudah kumusnahkan kalian semua disini”
“INGAT!” teriaknya pada penghuni sel yang lain.
“tak ada tempat untuk para pemberontak!”

                

Jumat, 13 Januari 2012

kau manis, kataku

“Kematian.”
“kau tahu? Kau tahu bagaimana ia menemuiku?”

Siang, sebelom petang. Aku datang ke pematang tanpa busana, dicabik-cabik babi bertuah di hutan larangan. Darah masih ada, mengalir, segar, aku merebah.

Seseorang datang.
“kenapa kamu, le?” tanya bapak panik
“matinya aku bertemu babi sialan itu apak!”
“biar apak bawa obat dulu dari rumah. Tunggu nak!”

“sialan, darah ini mengalir terus”
“ARRRGGGHHHHHHHHHH!” teriakku ketika selintingan tadi tak berasa lagi.
Kumulai merogoh tas apak yang ditinggalkan tadi.
“untungnya masih ada, hahh.”

Asap menghembus lega, melayang, dalam lanjutan rasa sakit ini. Sekiranya tulang kaki ku hampir remuk diterkamnya.
“Dasar, babi. Dasar babi bertuah” gumamku
Selintingan lagi kuambil. Kuhisap lagi. Melayang lagi. Kesadaran ini menghilang. Rasa sakitnya juga.

Kedamaian datang. Hening.

“kau tahu bagaimana ini rasanya?” gumamku. Ketika datang elisa, si gadis desa bersamaan mega merah menghilang.
“Kau tahu?” kutanya lagi.
“apa?”
“kau manis.”
“apa”
“kau manis, kataku”

Dia tersenyum tersipu dibalik rona pipinya.
“pulang, pulang saja kau. Tak takut kah?” lalu dia bergeming.
“Ini malam. Senja usai.” Timpalku. “pergi!”

Dalam keheningan lalu dia mengangguk dan berdiri. Menyodorkan tangannya untukku.
“OK, tunggu” kuberpikir mengapa apak belum juga kembali.
“Baiklah”

Aku mengikutinya di tengah malam di antara pematang dan sungai. Melaju sempoyongan dengan selintingan yang masih kuhisap. Kakiku masih berdarah, ya, masih. Keluh sang malam. Keluh yang tak berkesudahan menimpali kami dengan dinginnya malam. Kami muda dan merangsek ke depan. Kami menuju garis batas antara nyata dan impian.

Tak disangka apak datang terengah-engah.
“duh mana anakku si durja?” kata apakku.
“dimana? Sudah sembuhkah?”

Kami masih maju, entah kemana, entah dimana.
“kau tahu?”
“apa?” kubertanya balik.
“kematian”
“kau tahu. Kau tahu bagaimana ia menemuiku”

Esoknya.
Kuditemukan di jurang.
Apak dan elisa menangis tak tahu apa yang terjadi padaku.

Kamis, 12 Januari 2012

Dag Dig Dug

Adalah kami yang ketakutan akan malam dan bau asap.

“siapa datang?”
“tidak ada, lekas sembunyi.” Mereka berlari sempoyongan.

Semua orang berhamburan lari. Seorang bertanya
“ada lagi?”
“tidak, tapi pasangan bohemian itu kembali.”

“kenapa ini, yah?” tanya istriku. Seperti biasa aku hanya mengerenyitkan dahi dan menyeka keringatku.
“sudah tenang saja hehe”  sepertinya tugasku sudah selesai. Besok rekeningku bertambah

Di pelataran rumah dua orang pemuda mabuk memasuki. Mereka mengitari untuk masuk lewat pintu belakang. Dan ini masih malam.
‘Tok... tok...’
‘Tok. tok... tokk..’
Lalu aku menyambar pintu itu dan membukanya.

“ada apa kalian kemari??” tanpa menjawab pertanyaanku yang gusar, mereka nyelonong masuk ke dapur.
“HAHAHAHA” sontak mereka berdua setelah merasa aman.
“kami nyaris tertangkap” lapor seorang dari mereka.

‘Dag... dig... dug...’
‘Dag.... dig... dug....’

Aku bingung bagaimana untuk mengusir mereka. Bayaran sudah mereka terima tetapi malah lari kemari.

‘Tokkk, tokk,,’
‘Tokkk.. tokk..’ ketukan pintu cepat dari arah depan rumah

‘Dag... dig.. dug..’
‘Dag.... dig... dug...’

kepalaku mulai memanas. Dengan sigapku kutarik dua pemabuk ini lari ke atas loteng. Dan segera ku membuka pintu.

‘Dag.. dig... dug...’
‘Dag... dig... dug...’

“ada apa?” tanyaku kepada warga dengan menahan semua kepanikan yang ada.
“ 3 rumah penduduk kita terbakar lagi”

2 tahun kemudian.
Desa kami menjadi kota dengan mall dan apartemen di sudutnya.