“Kematian.”
“kau tahu? Kau tahu bagaimana ia menemuiku?”
Siang, sebelom petang. Aku datang ke pematang tanpa busana, dicabik-cabik babi bertuah di hutan larangan. Darah masih ada, mengalir, segar, aku merebah.
Seseorang datang.
“kenapa kamu, le?” tanya bapak panik
“matinya aku bertemu babi sialan itu apak!”
“biar apak bawa obat dulu dari rumah. Tunggu nak!”
“sialan, darah ini mengalir terus”
“ARRRGGGHHHHHHHHHH!” teriakku ketika selintingan tadi tak berasa lagi.
Kumulai merogoh tas apak yang ditinggalkan tadi.
“untungnya masih ada, hahh.”
Asap menghembus lega, melayang, dalam lanjutan rasa sakit ini. Sekiranya tulang kaki ku hampir remuk diterkamnya.
“Dasar, babi. Dasar babi bertuah” gumamku
Selintingan lagi kuambil. Kuhisap lagi. Melayang lagi. Kesadaran ini menghilang. Rasa sakitnya juga.
Kedamaian datang. Hening.
“kau tahu bagaimana ini rasanya?” gumamku. Ketika datang elisa, si gadis desa bersamaan mega merah menghilang.
“Kau tahu?” kutanya lagi.
“apa?”
“kau manis.”
“apa”
“kau manis, kataku”
Dia tersenyum tersipu dibalik rona pipinya.
“pulang, pulang saja kau. Tak takut kah?” lalu dia bergeming.
“Ini malam. Senja usai.” Timpalku. “pergi!”
Dalam keheningan lalu dia mengangguk dan berdiri. Menyodorkan tangannya untukku.
“OK, tunggu” kuberpikir mengapa apak belum juga kembali.
“Baiklah”
Aku mengikutinya di tengah malam di antara pematang dan sungai. Melaju sempoyongan dengan selintingan yang masih kuhisap. Kakiku masih berdarah, ya, masih. Keluh sang malam. Keluh yang tak berkesudahan menimpali kami dengan dinginnya malam. Kami muda dan merangsek ke depan. Kami menuju garis batas antara nyata dan impian.
Tak disangka apak datang terengah-engah.
“duh mana anakku si durja?” kata apakku.
“dimana? Sudah sembuhkah?”
Kami masih maju, entah kemana, entah dimana.
“kau tahu?”
“apa?” kubertanya balik.
“kematian”
“kau tahu. Kau tahu bagaimana ia menemuiku”
Esoknya.
Kuditemukan di jurang.
Apak dan elisa menangis tak tahu apa yang terjadi padaku.