Lagi-lagi kulemparkan pandanganku kali ini ke tubuhnya. Setelah sebelum-sebelumnya kuhanya bisa mencuri-curi dari kejauhan, keinginan tahuan yang terpendam. Tidak seperti sebelumnya yang kuhanya bisa mengirimkan puisi-puisi tentang kemerdekaan. Sekarang kumelihatnya jelas, sangat jelas. Dia indah, semburat cahaya di wajahnya, sedikit gempal dan yang paling membunuhku, dia manis.
“maaf!” satu kata darinya yang membuyarkan lamunanku. Tubuhnya yang kuamati dari kejauhan tadi sudah ada di sini, sekitar 30 cm dari wajahku.
“ya?” aku menjawab bingung setengah bertanya.
“kau tahu siapa yang menulis ini?” sembari menunjukan sekumpulan sajak tentang dirinya. Bagaimana ku tahu? Ya, itu akulah yang menulisnya.
“emmmhh, tidak, mengapa? Apa kau menyukai syair-syair seperti ini?”
“tidak, mungkin hanya sampah.” Lalu ia pergi melewatiku.
Mungkin rasanya dunia ini remuk. Tapi tak apa kupikir mungkin hanya karena disini dialah satu-satunya yang bisa kulihat, untuk kujadikan puisi.
Esoknya kumulai lagi menulis puisi. Tentang dia? Bukan, ini tentang kemerdekaan, tentang daerahku yang sudah lama menuntut kemerdekaan, tentang rakyat-rakyatku yang mengutuk pemerintahan. Sekarang kuditemani kembali dengan sebotol whiskey yang kubeli dari sipir korup. Satu sloki kutenggak, kemudian yang lainnya menyusul. Kumenari dalam diorama sel-sel yang mengekangku. Dan membacakan puisi-puisiku dengan lantang hingga mereka menenangkan. Menenangkan? Tahulah kalian maksud menenangkan disini.
Sebulan kemudian. Kutak habis pikir mengapa gadis itu masih mencari berkeiling dari sel ke sel siapa penulis syair yang sudah usang.
“hey! Apa yang kau cari tak ada di sini?” teriakku. Teriakanku tadi sedikit menggema diantara labirin-labirin yang ada. Memalingkan pandangannya pada selku, padaku. Sampai seorang sipir mulai mencari siapa yang berteriak di depan labirin. Dia memalingkan wajahnya lalu berlari. Aku tak sempat melihat wajahnya memerah tapi kutahu itu pasti. Sejak itulah kami mengenal.
Sampai suatu saat ketika Kjokenmoding, si Gubernur Jenderal datang dan mengumpulkan semua sipir disini.
“hai!” gadis itu menghampiri.
“ya?” kumenjawab sembari bertanya.
“apa benar kau menginginkanku. Seperti apa yang semua kau tulis disini?” tanya gadis itu singkat.
“tidak, bukankah itu sampah menurutmu?” lalu gadis itu malu, memerah mukanya dan gugup untuk melanjutkan pertanyaannya seakan-akan teringat pada perkataannya dan marah sendiri.
Tak lama, dua orang sipir datang, membuka kunci selku dan menyeret kedua tanganku.
“sudah pergi saja kau!” teriakku.
“cari laki-laki yang baik!”
“tempatmu bukan disini!” teriakku sambil diseret oleh kedua sipir tadi. Dia malu, dia masih malu, memendam perasaannya dan tak beranjak dari sini.
“tapi... tapi...”
“SUDAH! PERGI!” teriakku kesal. Aku sudah berada di tengah-tengah sel yang lainnya.
Dari jauh sang jenderal memberi aba-aba.
“tapi....”
‘DOR.. DOR.. DOR’ juru tembak mengerjakan tugasnya.
“AKU MAUNYA KAMU TITIK!” teriaknya telat tetapi masih sempat terdengar saat pandangan ini mulai menghitam, mengeblur. Rupanya ia benar menginginkanku. Perasaannya yang dalam kini mulai bertubuh tetapi kosong kembali dalam kematianku. Pencariannya selama ini telah berakhir. Berakhir diujung senapan.
“HAHAHAHAHA” tertawa sang jenderal bengis itu.
“akhirnya kuberhasil membunuh juga penyair sialan itu, salah kalau aku hanya membunuh kurirnya saja, sipir kasim. Kalau tak ada gadis ini mungkin sudah kumusnahkan kalian semua disini”
“INGAT!” teriaknya pada penghuni sel yang lain.
“tak ada tempat untuk para pemberontak!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar