“yah! Ini kau baca, ada surat dari si sarah” tukas ibuku kesal kepada ayah.
“kenapa?dari siapa” ayahku coba memaklumi setelah melihat suratnya dan terdiam.
Ayahku mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Tapi aku? Aku bagaimana bisa menghadapinya. Ibu pun seperti tidak mau terima akan hal ini padahal 20 tahun sudah dia merasakan seperti ini; 20 tahun pulalah aku dititipkan pada kakek-nenekku; 20 tahun pulalah hal ini disembunyikan padaku.
Sekarang aku melihat ayahku. Dia membaca surat ini, tak tersenyum, tak pula marah, tanpa ekspresi. Aku tak pernah bisa memahaminya. Aku baru saja 2 minggu disini. Ketika kumelihat ibu menangis selalu dirumah yang kukira dahulu selalu ceria ketika mendatangiku ke rumah kakek.
“dia lagi?” Tanya ibu.
“iyaa.” Jawab ayah datar.
“kenapa selalu dia.” Tanya ibu kembali.
“karena dia sama sepertimu” jawab ayah mulai kesal lalu pergi berlalu.
2 minggu kemudian kakakku datang. Aku pikir dia sudah tidak tahan dengan keadaan di rumah ini. Kupikir sih begitu. Mungkin itu yang menyebabkan dia memilih tinggal di kos daripada di rumah sejak 5 tahun yang lalu.
“dik! Ayo ajak ibu.”
“lho? Kemana kak?”
“apa kau belum tahu?
Aku kebingungan apakah jalan pikiran kakakku; apa yang ia ketahui; apa yang belum kuketahui. Setelah percakapan tadi dia mengajakku ke gudang, tempat ayahku berlalu sebelum melengos keluar. Dan menunjukkan semuanya. Semuanya.
“nih! Nih! Nih! Kau lihatlah semua.” Sembari menunjukkan semua surat-surat yang pernah dikirimkan wanita itu, sarah, dengan wajah tenang. Apakah dia menyetujui semua hubungan ini, pikirku.
“ayo, dik! Ayo! Ajak ibumu. Ini sudah waktunya”
“waktunya apa?” tanyaku bingung.
“ke psikiater, ibumu sakit.”
Aku mulai bingung dengan semua korelasi ini. Seakan semua yang kubayangkan tentang keluarga ini yang membuangku di rumah kakek, sementara mereka semua menikmati kehidupan disini, sirna. Aku mulai bingung dengan jalan pikiran ayahku; jalan pikiran ibuku yang mau saja diperlakukan ayahku seperti ini; jalan pikiran kakakku yang menyuruh ibu ke psikiater dan tenang-tenang saja melihat-lihat surat dari wanita itu.
“ibumu sakit, sakit alter ego, kepribadian ganda.” Tukas kakakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar