Kamis, 12 Januari 2012

Dag Dig Dug

Adalah kami yang ketakutan akan malam dan bau asap.

“siapa datang?”
“tidak ada, lekas sembunyi.” Mereka berlari sempoyongan.

Semua orang berhamburan lari. Seorang bertanya
“ada lagi?”
“tidak, tapi pasangan bohemian itu kembali.”

“kenapa ini, yah?” tanya istriku. Seperti biasa aku hanya mengerenyitkan dahi dan menyeka keringatku.
“sudah tenang saja hehe”  sepertinya tugasku sudah selesai. Besok rekeningku bertambah

Di pelataran rumah dua orang pemuda mabuk memasuki. Mereka mengitari untuk masuk lewat pintu belakang. Dan ini masih malam.
‘Tok... tok...’
‘Tok. tok... tokk..’
Lalu aku menyambar pintu itu dan membukanya.

“ada apa kalian kemari??” tanpa menjawab pertanyaanku yang gusar, mereka nyelonong masuk ke dapur.
“HAHAHAHA” sontak mereka berdua setelah merasa aman.
“kami nyaris tertangkap” lapor seorang dari mereka.

‘Dag... dig... dug...’
‘Dag.... dig... dug....’

Aku bingung bagaimana untuk mengusir mereka. Bayaran sudah mereka terima tetapi malah lari kemari.

‘Tokkk, tokk,,’
‘Tokkk.. tokk..’ ketukan pintu cepat dari arah depan rumah

‘Dag... dig.. dug..’
‘Dag.... dig... dug...’

kepalaku mulai memanas. Dengan sigapku kutarik dua pemabuk ini lari ke atas loteng. Dan segera ku membuka pintu.

‘Dag.. dig... dug...’
‘Dag... dig... dug...’

“ada apa?” tanyaku kepada warga dengan menahan semua kepanikan yang ada.
“ 3 rumah penduduk kita terbakar lagi”

2 tahun kemudian.
Desa kami menjadi kota dengan mall dan apartemen di sudutnya.

1 komentar: